Sabtu, 19 Mei 2018

TEKS EDITORIAL



TANTANGAN PENDIDIKAN KITA
Karya: Agus Suwignyo
Disunting kembali oleh Muzayyanatun Nisa’

            Dua dekade Reformasi dan hampir tiga perempat abad Republik ini. Namun, dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi persoalan-persoalan yang klasik,yaitu rendahnya mutu dan terbatasnya akses pendidikan. Pendidikan di Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Salah satu indikatornya adalah hasil tes Program for International Student Assessment (PISA), yang menempatkan kemampuan anak-anak Indonesia dalam bidang sains, membaca, dan matematika jauh di bawah anak-anak Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand.
Kehilangan daya tarik adalah pangkal persoalan rendahnya kompetensi guru. Sekalipun secara formal telah memiliki sertifikat pendidik, banyak guru yang kompetensi padegogik dan profesionalnya tidak memadai. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak sebanding lurus dengan tingkat keterserapan  ke dunia kerja. Secara global, sampai tahun 2017 sekitar sepertiga penduduk Indonesia usia di atas 15 tahun, hanya mengenyam pendidikan SD. Di samping itu, sistem penggajian pada sektor pekerjaan formal tidak menunjukkan rentang pendapatan yang signifikan antar-jenjang pendidikan. Dengan harga kebutuhan pokok semua penduduk tidaklah memandang tingkat pendidikan. Dari sinilah dunia pendidikan kita betul-betul akan kehilangan daya tarik bagi generasi muda.
  Peningkatan mutu bukanlah satu-satunya tantangan dalam dunia pendidikan indonesia saat ini. Ada tantangan lain yang menggoyah dan membelokkan arah pendidikan nasional, yaitu terjadina hibridasi ideologi sektarian dan antipluralisme di dunia pendidikan. Hibridasi ideologi arttinya proses setengah matang penanaman ideologi tertentu secara eksklusif. Akar persoalan kiranya terletak pada instrumentasi institusi pendidikan untuk penyebaran ideologi. Gejala radikalisasi  agama di sekolah maupun di kampus, merupakan titik balik terhadap ideologisasi Pancasila. Oleh karena itu, tantangan terbesar pendidikan kita saat ini adalah mengembalikan arah pendidikan nasional pada marwahnya yang hakiki yaitu “mencerdaskan kehiupan angsa”. Proses pendidikan perlu dikembalikan kepada nilai dasarnya, yaitu kemanusiaan yang universal.
 
Sumber: Koran Kompas, edisi 2 Mei 2018