SINOPSIS
SIDANG SUSILA
Di sebuah pinggiran kota, ada
gerombolan penari Tayub. Mira menari berlenggok sensual, sehingga mengundang
gairah para lelaki berjoget. Muncullah Susila, Mira langsung menyambutnya dengan
genit, dan Susila pun ikut menari. Tubuhnya yang tambun nampak eksotis dan
nampak lucu. Tayuban terus berlangsung dengan tarian yang semakin lama semakin
HOT. Namun, tiba-tiba muncul beberapa Polisi Moral, langsung mengobrak-abrik
tayuban itu.
Polisi Mengepung Susila seolah
mendapatkan paus besar. Susila diseret dan digelandang para petugas. Susila
dituding Jaksa, Hakim, dan Polisi sebagai penjahat moral, atas tindakan
pornografi dan pornoaksi. Wartawan mendesak pertanyaan pada Jaksa mengenai
pelaksanaan persidangan Susila. Susila sudah berada di sel tahanan. Siap tidak
siap Susila dihadapkan petugas untuk diintrogasi. Petugas jaga jarak dengan Susila
karena takut terinveksi, mengintrogasi susila dengan tegas.
Seorang Hakim, Jaksa, dan Pembela
datang ke sel Susila. Lagi-lagi Susila dituding, kali ini dengan sebutan
pesakitan dan diperlakukan seolah menjijikkan. Susila juga dianggap lebih
berbahaya dari Psikopat. Banyak masyarakat yang kemudian menjadikan Susila
sebagai simbol perlawanan. Susila yang dianggap berani menentang Undang-undang Susila.
Namun, di mata sebagian orang Susila justru dijadikan sebgai idola.
Kepanikan meraung-raung ketika Susila
Parna dikabarkan telah kabur dari tahanan. Padahal dalam urusan sidang perkara
Susila belum usai di jalankan. Pencarian Susila pun dilaksankan. Orang yang
tertangkap dan masih ada hubungannya dengan Susila Parna dituduh menjadi bagian
dari organisasi terlarang OPM (Organisasi Pendukung Moralitas) yang dianggap
sebagai kelompok ekstrim dengan tindakan asusila. Mereka kemudian dianggap
sebagai penjahat moral yang menjijikkan dan perusak kesetabilan moral negara.
Dibalik kasus Susila Parna, konflik berbagai
kepentingan pun bermunculan. Petugas kepolisian, Hakim, Jaksa, Pembela berusaha
mencari kesempatan dari ‘proyek susila’. bahkan bagian dari orang-orang yang
harusnya berperan dan bertugas untuk negara justru mereka menyembunyikan
perilaku amoral dan tindak asusila. Mereka hanya berpura-pura menegakkan
keadilan dan patuh terhadap aturan. Solah memiliki muka dua.