Minggu, 15 April 2018

ESAY MUZA


PERJUANGAN ANTARA SANG PENCERAH DAN SANG KYAI

            Manusia  diciptakan Allah untuk mengabdi kepadanNya. Sebagaimana firman-Nya pada Q.S. Adz Dzariyat: 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”  Dari ayat tersebut, umat manusia seyogyanya memahami dan memaknai segala firman dan perintah-Nya. Sebagaimana orang-orang terdahulu, perjuangan agar menjadi hamba yang menaati segala perintahnya, dan menjauhi segala larangannya bukanlah suatu hal yang mudah. Membutuhkan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalankannya.
            Kita umat yang turut mengiringi peradaban nusantara, pasti tidaklah asing dengan kisah perjuangan sang tokoh agama, yakni K.H Ahmad dahlan yang difilmkan sebagai “Sang Pencerah” dan K.H Hasyim Asy’ari difilmkan sebagai “Sang Kyai”. Kisah kedua tokoh agama ini, difilmkan karena melatarbelakangi perjuangan keduanya dalam memperjuangkan sebuah harakah atau gerakan islam. Sebagaimana umumnya kita menyebutnya sebagai organisasi masyarakat atau organisasi pergerakan umat muslim paling besar di Nusantara. Keduanya adalah Persyarikatan Muhammadiyah dan Persyarikatan Nahdhatul ‘Ulama.
            Judul film “Sang Pencerah” dan “Sang Kyai” termasuk ke dalam film kategori yang sangat memberikan pengajaran tinggi. Masing-masing  film ini, menggambarkan narasi besar dari masing-masing ormas terbesar di Nusantara. Bila penulis menyebutkan lebih dahulu Sang Pencerah daripada Sang Kyai, maka hal ini tidaklah bermaksud memunculkan deskriminasi dalam bentuk ucapan. Penyebutannya hanya mengacu pada jadwal tanyang di layar lebar. Film “Sang Pencerah” dan “Sang Kyai” berdimensi sejarah, mencoba mengajak penonton untuk memahami peran. Kontribusi kedua film ini merupakan garis besar perjuangan dalam menggambarkan tokoh pendiri ormas Muhammadiyah dan Nahdhatul ‘Ulama.
Film “Sang Pencerah” memfokuskan dirinya dengan menelisik jauh ke belakang alur cerita. Dimulai dari kelahiran Ahmad dahlan, sang tokoh pendiri Muhammadiyah, lalu ke masa kecil Ahmad Dahlan yang nama kecilnya adalah Ahmad Darwis. Ahmad dahlan kecil digambarkan sebagai pribadi yang sudah mempertanyakan ritual masyarakat yang dianggapnya menyimpang dari agama. Sebuah kecenderungan yang kelak dianggap mempengaruhi pola pikirnya. Setelah dewasa, khususnya setelah menuntut ilmu di Makkah, Ahmad dahlan kembali dengan pemikiran-pemikiran modernisme islamnya. Sang Pencerah juga menggambarkan perjuangan Ahmad dahlan dalam menyebarkan pikiran modernisme. Pada hakikatnya bermaksud menawarkan modernisme ala Muhammadiyah. Sebuah gerakan pemikiran yang akarnya bisa dilacak ke dunia intelektual Arab.
Modernisasi versi Ahmad dahlan muncul dari sebuah keyakinan bahwa, untuk membahrukan Umat Islam, mesti dimulai dengan penghilangan atau pemberantasan budaya-budaya yang dianggap sebagai penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat). Karena budaya inilah yang membelenggu umat Islam dalam memajukan pikiran terlebih dahulu daripada perilaku. Oleh karena itu, perjuangan Ahmad dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah dianggap sebagai gerakan pemurnian Aqidah yang diharapkan mampu menjadikan umat Islam yang sebenar-benarnya.
            Sisi berbeda ditunjukkan film “Sang Kyai”. Film ini, memilih mendeskripsikan peran tokoh sentral pendiri Nahdhatul ‘Ulama yaitu K.H Hasyim Asy’ri. Terkait pemikiran dan kontributifnya dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain, sumbangsih Nahdhatul ‘Ulama dalam menggapai kemerdekaan digambarkan dalam film ini. Diantaranya adalah pertempuran anak muda Nahdhatul ‘Ulama di bawah bendera laskar hizbullah. Adegan tersebut sebenarnya lebih menekankan bahwa Nahdhatul ‘Ulama sejak awal merupakan bagian dari Indonesia. Kecenderungan tersebut juga tertuang dalam pemikiran K.H Hasyim Asy’ri saat sang tokoh dimintai fatwa tentang perlunya mendukung kemerdekaan Indonesia. Maka, dengan terbuka pendiri ormas terbesar di nusantara ini menyanggupinya.
Hal yang sama juga terjadi pada saat Bung Tomo meminta resolusi jihad kepada Sang Kyai. Bagian tersebut menunjukkan sisi fleksibelitas pemikiran K.H Hasyim Asy’ri. Pada titik lain, K.H Hasyim Asy’ri sikapnya cenderung kompromistis pada Jepang dalam sisi tertentu. Hal ini bukanlah sikap membelot melainkan sebgai strategi memenangkan peperangan melawan penjajah. Terbukti, bahwa laskar hizbullah yang lahir dengan sikap kompromisnya mempu menjadi barisan pejuang tangguh yang menghadang kedatangan Belanda.  
Dalam dimensi universal dalam segi penyangan, kehadiran kedua film ini merupakan sebagai anti dari label radikalisme yang belakangan ini sering muncul pada umat islam. Hal-hal ini tidaklah muncul begitu saja, karena radikalisme tak lepas dari segelintir oknum yang membalut kekerasan dengan jubah agama. Film ini juga menegaskan bahwa umat islam indonesia bukan penyokong radikalisme juga bukan entitas yang memusuhi negara. Terbukti bahwa kedua organisasi masyarakat terbesar di Indonesia adalah mewujudkan dan terpeliharanya nilai Islami dalam kehidupan berbangsa dan berdegara. Bukan untuk membentuk negara Islam, namun Nahdhatul ‘Ulama dan Muhammadiyah sebagai pionir loyalitas di bawah perjuangan dakwahnya masing-masing dengan memegang teguh atribut keislamannya.

3 komentar:

  1. Sebuah tulisan yang bernilai. Tiap paragrafnya mengandung pemikiran yg menjadi dasar pijakan bersikap di dalam hidup berislam, berbangsa dan bernegara.
    Ditambah sentuhan bahasa yang lugas dan kian memikat..

    Semangat selalu untuk mbak Muza, selamat berkarya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baik pak pelacakjejak22.blogspot.com
      Syukron katsir... :D

      Hapus
  2. Menilik dari ketersampaian ide penulis dan komparasi 2 film fenomenal masterpiece masing2 pergerakan, kita mengerti bahwa kekuatan berpikir mampu membentuk pribadi yg tangguh di dalam berislam dan bernegara. Muara yg sama antara pendiri Muhammadiyah dan NU merupakan asas utama pergerakan mereka. Betapa tidak? Dahulu mereka belajar bersama di Mekah dan mengenal satu sama lain dengan baik. Lain ayah bisa jadi lain pula sifat anak, saat itu mereka insafi persaudaraan dalam perbedaan. Sayangnya, kita belum sepenuhnya sanggup meneladani sisi positif yg mereka dahulu lakukan. Kita berbeda, namun sejatinya kita mampu bersama. Berjalan beriringan, demi tegaknya Islam dan Indonesia yg baldatun thayyibatun wa rabbun Ghafur..

    Selamat dan sukses selalu, mbak Muza..

    BalasHapus