PERJUANGAN ANTARA SANG PENCERAH DAN SANG KYAI
Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepadanNya.
Sebagaimana firman-Nya pada Q.S. Adz Dzariyat: 56 “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Dari ayat tersebut, umat manusia seyogyanya
memahami dan memaknai segala firman dan perintah-Nya. Sebagaimana orang-orang
terdahulu, perjuangan agar menjadi hamba yang menaati segala perintahnya, dan
menjauhi segala larangannya bukanlah suatu hal yang mudah. Membutuhkan kesabaran
dan keikhlasan dalam menjalankannya.
Kita
umat yang turut mengiringi peradaban nusantara, pasti tidaklah asing dengan
kisah perjuangan sang tokoh agama, yakni K.H Ahmad dahlan yang difilmkan
sebagai “Sang Pencerah” dan K.H Hasyim Asy’ari difilmkan sebagai “Sang Kyai”. Kisah
kedua tokoh agama ini, difilmkan karena melatarbelakangi perjuangan keduanya dalam
memperjuangkan sebuah harakah atau gerakan islam. Sebagaimana umumnya kita
menyebutnya sebagai organisasi masyarakat atau organisasi pergerakan umat
muslim paling besar di Nusantara. Keduanya adalah Persyarikatan Muhammadiyah
dan Persyarikatan Nahdhatul ‘Ulama.
Judul
film “Sang Pencerah” dan “Sang Kyai” termasuk ke dalam film kategori yang
sangat memberikan pengajaran tinggi. Masing-masing film ini, menggambarkan narasi besar dari masing-masing
ormas terbesar di Nusantara. Bila penulis menyebutkan lebih dahulu Sang
Pencerah daripada Sang Kyai, maka hal ini tidaklah bermaksud memunculkan deskriminasi
dalam bentuk ucapan. Penyebutannya hanya mengacu pada jadwal tanyang di layar
lebar. Film “Sang Pencerah” dan “Sang Kyai” berdimensi sejarah, mencoba
mengajak penonton untuk memahami peran. Kontribusi kedua film ini merupakan
garis besar perjuangan dalam menggambarkan tokoh pendiri ormas Muhammadiyah dan
Nahdhatul ‘Ulama.
Film “Sang Pencerah”
memfokuskan dirinya dengan menelisik jauh ke belakang alur cerita. Dimulai dari
kelahiran Ahmad dahlan, sang tokoh pendiri Muhammadiyah, lalu ke masa kecil
Ahmad Dahlan yang nama kecilnya adalah Ahmad Darwis. Ahmad dahlan kecil
digambarkan sebagai pribadi yang sudah mempertanyakan ritual masyarakat yang
dianggapnya menyimpang dari agama. Sebuah kecenderungan yang kelak dianggap
mempengaruhi pola pikirnya. Setelah dewasa, khususnya setelah menuntut ilmu di
Makkah, Ahmad dahlan kembali dengan pemikiran-pemikiran modernisme islamnya. Sang
Pencerah juga menggambarkan perjuangan Ahmad dahlan dalam menyebarkan pikiran
modernisme. Pada hakikatnya bermaksud menawarkan modernisme ala Muhammadiyah.
Sebuah gerakan pemikiran yang akarnya bisa dilacak ke dunia intelektual Arab.
Modernisasi
versi Ahmad dahlan muncul dari sebuah keyakinan bahwa, untuk membahrukan Umat Islam,
mesti dimulai dengan penghilangan atau pemberantasan budaya-budaya yang
dianggap sebagai penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat). Karena budaya
inilah yang membelenggu umat Islam dalam memajukan pikiran terlebih dahulu
daripada perilaku. Oleh karena itu, perjuangan Ahmad dahlan dalam mendirikan
Muhammadiyah dianggap sebagai gerakan pemurnian Aqidah yang diharapkan mampu menjadikan
umat Islam yang sebenar-benarnya.
Sisi
berbeda ditunjukkan film “Sang Kyai”. Film ini, memilih mendeskripsikan peran tokoh
sentral pendiri Nahdhatul ‘Ulama yaitu K.H Hasyim Asy’ri. Terkait pemikiran dan
kontributifnya dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain, sumbangsih Nahdhatul
‘Ulama dalam menggapai kemerdekaan digambarkan dalam film ini. Diantaranya
adalah pertempuran anak muda Nahdhatul ‘Ulama di bawah bendera laskar
hizbullah. Adegan tersebut sebenarnya lebih menekankan bahwa Nahdhatul ‘Ulama
sejak awal merupakan bagian dari Indonesia. Kecenderungan tersebut juga
tertuang dalam pemikiran K.H Hasyim Asy’ri saat sang tokoh dimintai fatwa
tentang perlunya mendukung kemerdekaan Indonesia. Maka, dengan terbuka pendiri
ormas terbesar di nusantara ini menyanggupinya.
Hal yang sama
juga terjadi pada saat Bung Tomo meminta resolusi jihad kepada Sang Kyai. Bagian
tersebut menunjukkan sisi fleksibelitas pemikiran K.H Hasyim Asy’ri. Pada titik
lain, K.H Hasyim Asy’ri sikapnya cenderung kompromistis pada Jepang dalam sisi
tertentu. Hal ini bukanlah sikap membelot melainkan sebgai strategi memenangkan
peperangan melawan penjajah. Terbukti, bahwa laskar hizbullah yang lahir dengan
sikap kompromisnya mempu menjadi barisan pejuang tangguh yang menghadang
kedatangan Belanda.
Dalam dimensi
universal dalam segi penyangan, kehadiran kedua film ini merupakan sebagai anti
dari label radikalisme yang belakangan ini sering muncul pada umat islam.
Hal-hal ini tidaklah muncul begitu saja, karena radikalisme tak lepas dari
segelintir oknum yang membalut kekerasan dengan jubah agama. Film ini juga
menegaskan bahwa umat islam indonesia bukan penyokong radikalisme juga bukan
entitas yang memusuhi negara. Terbukti bahwa kedua organisasi masyarakat
terbesar di Indonesia adalah mewujudkan dan terpeliharanya nilai Islami dalam
kehidupan berbangsa dan berdegara. Bukan untuk membentuk negara Islam, namun Nahdhatul
‘Ulama dan Muhammadiyah sebagai pionir loyalitas di bawah perjuangan dakwahnya
masing-masing dengan memegang teguh atribut keislamannya.
Sebuah tulisan yang bernilai. Tiap paragrafnya mengandung pemikiran yg menjadi dasar pijakan bersikap di dalam hidup berislam, berbangsa dan bernegara.
BalasHapusDitambah sentuhan bahasa yang lugas dan kian memikat..
Semangat selalu untuk mbak Muza, selamat berkarya..
Baik pak pelacakjejak22.blogspot.com
HapusSyukron katsir... :D
Menilik dari ketersampaian ide penulis dan komparasi 2 film fenomenal masterpiece masing2 pergerakan, kita mengerti bahwa kekuatan berpikir mampu membentuk pribadi yg tangguh di dalam berislam dan bernegara. Muara yg sama antara pendiri Muhammadiyah dan NU merupakan asas utama pergerakan mereka. Betapa tidak? Dahulu mereka belajar bersama di Mekah dan mengenal satu sama lain dengan baik. Lain ayah bisa jadi lain pula sifat anak, saat itu mereka insafi persaudaraan dalam perbedaan. Sayangnya, kita belum sepenuhnya sanggup meneladani sisi positif yg mereka dahulu lakukan. Kita berbeda, namun sejatinya kita mampu bersama. Berjalan beriringan, demi tegaknya Islam dan Indonesia yg baldatun thayyibatun wa rabbun Ghafur..
BalasHapusSelamat dan sukses selalu, mbak Muza..